Kamis, 25 Juni 2015

Pembekalan maraton sebelum Praktik Kerja Lapang 2015

      Mahasiswa tinggal 3 atau yang akan masuk ke tingkat 4 akan menghadapi masa PKL atau KKN sebagai salah satu syarat pendidikan Indonesia untuk mendekatkan diri pada masyarakat. Sekarang ini giliran kami para mahasiswa Ilmu Komputer IPB angakatan 49 (2012) yang akan terjun ke dunia kerja.
     Sebelum mulai berpetualang di intansi masing-masing nanti, kami diberikan pembekalan tentang developing aplikasi pada dunia industri dan apa yang mereka kerjakan, tips dan trik memilih tempat pkl (walaupun menurut saya telat karena kami sudah memiliki tempat pkl), etika berkomunikasi sampai materi kepemimpinan. Pembekalan dilakukan selama 3 hari dengan waktu masing masing 6 jam. Tujuannya dari acara itu untuk mengisi kepala para mahasiswa agar lebih melek, siap, dan yang terutama tidak membuat diri sendiri, departemen dan almamater.
     Hari pertama dimulai dengan 3 pembicara dari 3 perusahaan terkemuka di Indonesia bahkan dunia yaitu IBM Indonesia, blibli.com, dan PT. Indonesia. Kami diberitahu bagaimana mereka bekerja, skill-skill yang harus kami siapkan nanti disana, sampai kehidupan dan suasana kantor terutama di bidang IT.
     Kemudian di hari kedua bukan lagi masalah pengetahuan tentang dunia IT, melainkan tentang etika dan komunikasi. Menurut panitia hal itu penting dilakukan karena bentuk komunikasi di kampus tentu sangat ketika di kantor dan bagaimana etika yang baik dan tentunya seusai dengan Indonesia.
     Yang ditunggu tunggu yaitu hari ketiga, bukan materi yang ditunggu, lebih tepatnya kami akan foto bareng seangkatan yang jarang sekali dilakukan. Selain itu juga puncak acara yaitu pelepasan peserta oleh dekan fakultas kami yaitu dekan FMIPA IPB. Tak terasa semuanya dilalui, pembekalan sudah didapatkan. Sekarang kami semua bersiap menempa diri di instansi masing-masing tempat kami PKL. Semoga akan berjalan dengan baik dan sesuai harapan kami!

Minggu, 21 Juni 2015

THT 3 IMK 2015 - High Reliability Virtual Organizations: Co-Adaptive Technology and Organizational Structures in Tsunami Warning Systems

High Reliability Virtual Organizations: Co-Adaptive Technology and Organizational Structures in Tsunami Warning Systems
MARTHA GRABOWSKI, Le Moyne College, Rensselaer Polytechnic Institute
KARLENE ROBERTS, University of California, Berkeley
URL : http://doi.acm.org/10.1145/2063231.2063233

Abctract
Highly reliable organizations (HROs) are those organizations, which by nature or design, cannot or must not fail; the consequences of failure in such systems are usually catastrophic. Systems that combine the characteristics of highly reliable operations and distributed, virtual organizations are known as highly reliable virtual organizations (HRVOs)—distributed and electronically linked groups of organizations that excel in high-consequence settings. Tsunami warning systems (TWS) are one example of virtual organizations that operate under enormous expectations for reliability. Adaptive structuration theory suggests that, in complex systems, technology and organizational structures co-evolve, and users adapt technology to their needs, creating shared meaning about the role and utility of technology in various settings. In this article, we consider how the shared meaning that develops in the social shaping of technology in one HRVO, tsunami warning systems, contributes to reliability enhancement. Following Poole and De Sanctis [2000], this study is a structuration study in a particular context, exploring how structuration occurs, the conditions that influence it, and its consequences or outcomes. We begin by describing HRVOs and the co-adaptive roles that technology and organizational structures play in such organizations. We then describe a global tsunami warning system as an illustrative case of a globally distributed sociotechnical system for which use of technology and distributed organizational structures should enhance reliability. We describe how social media plays a role in adaptive structuration in tsunami warning systems, and then return to consider the nature of HRVOs and their characteristics, en route to identifying challenges in the co-adaptation of technology and organizational structures in highly reliable tsunami warning systems.

Categories and Subject Descriptors: H.4.2 [Information Systems Applications]: Types of Systems—Decision support (e.g., MIS)
General Terms: Human Factors, Management
Additional Key Words and Phrases: Organizational structures, high reliability organizations, virtual organizations, tsunami warning systems, crisis management, disaster management, disaster response, computer human interaction, communication, technology
ACM Reference Format:
Grabowski, M. and Roberts, K. 2011. High reliability virtual organizations: Co-adaptive technology and organizational structures in tsunami warning systems. ACM Trans. Computer.-Hum. Interact. 18, 4, Article 19 (December 2011), 23 pages.
DOI = 10.1145/2063231.2063233 http://doi.acm.org/10.1145/2063231.2063233

Pengkaji Jurnal : Alanikika Pratyaksa / G64120024, Institut Pertanian Bogor, Indonesia
Tsunami Warning System (TSW) adalah salah satu contoh dari virtual organisasi yang didistribusikan secara global yang beroperasi dibawah harapan besar untuk masalah kehandalan. Global TWS mencakup pusat peringatan yang  diawaki oleh para ilmuan dan watchstander di seluruh dunia, lembaga meteorology nasional dan internasional, manager darurat yang harus memenyebarkan pesan peringatan dan instruksi dari pusat peringatan secara real time kepada publik. Pengajar lokal dan lembaga kepemimpinan haru mendidik dan melatih anggpta di latihan ketahanan tsunami. Semua anggota pada sistem ini saling terikat oleh legion jaringan termasuk pelampung deteksi kedalaman air tsunami, seimsmk dan jaringan satelit observasi. Anggota dari TWS bertindak selaras dan secara real time untuk mengevaluasi ancaman sunami sampai bagaimana cara untuk mengevakuasi publik.
Interaksi antara teknologi dan struktur organisasi pada sistem yang kompleks telah digambarkan sebagai refleksi  dari hubungan antara element sistem, ditafsirkan dan diinterpretasikan dengan berbagai cara. Teknologi dan struktur organisasi berkembang bersama, pengguna menyesuaikan teknologi sesuai kebutuhan. Artikel ini mempertimbangkan bagaimana kita berbagi makna untuk berkembang dalam pembentukan social teknologi dalam satu HRVO (Highly Reliable Virtual Organization), Tsunami Warning System. Sosial media adalah salah satu dari teknologi yang sering digunakan di HRVOs dan TWS. Pada TWS sosial media digunakan untuk mengikutsertakan dan memberitahu publik, memberikan informasi penting secara real time, memonitor respon dan reaksi publik, dan memperbaharui sistem peringatan. Beranjak pada pokok permasalah, yang akan dibahas pertama adalah menjelaskan tentang HRVOs dan peran co-adaptive yang teknologi dan struktur organisasi bermain dalam organisasi tersebut. Kemudian menjelaskan tentang global tsunami warning system sebagai kasus ilustrasi dari sebuah global dristibuted Virtual Organization (VO). Kemudian menjelaskan bagaimana sosial media memainkan peran pada strukturasi adaptif di  TWS.
Virtual Organization (VO) adalah kelompok jaringan elektronik  dari organisasi yang melampaui batas-batas organisasi tradisional. VO mendukung anggotanya yang tidak berada dalam satu lokasi untuk saling berhubungan secara jaringan media elektronik Jaringan ini dibuat dengan banyak variasi termasuk product design, software engineering, financial tellecomunication, dan economic reporting. Kemudian pada bagian Highly Reliable Organization (HRO) dirancang untuk tidak gagal sebagai konsekuensi dari kegagalan yang biasanya bencana. Penggabungan karakteristik dari VO dan HRO sendiri kemudian menjadi HRVOs (Highly Reliable Organizations) dengan kendala yang dihadapau HRVOs adalah substansial. Karena HRVOs terdiri dari distribusi, jaringan organisasi dan proses bisnis bersama, resiko dapat bermigrasi antara anggoa organisasi. HRVO juga terdiri dari anggota dengan tujuan individu pengguna yang berbeda, politik dan budaya. Karena besarnya skala jaringan HRVOs berdampak pada sulitnya pengembangan dan banyak timbulnya masalah. Maka dari itu tantangan tersebut memberikan petunjuk penting tentang peran dari teknologi dan struktur organisasi dalam meredam resiko dan megingatkan performa  pada HRVOs. Perbedaan HROs dengan HRVOs salah satunya adalah perbedaan asal anggota, jika HRO anggotanya berasal dari organisasi yang sama sedangakan anggotanya berasl dari organiasai yang berbeda dalam sebuah sistem terdistribusi.
Ketika sistem anggota terdistribusi secara geografis dan bergantung pada teknologi informasi untuk pengetahuan, evolusi bersama dari teknolofi informasi dan struktur organisasi menjadi sangat penting dan sebuah penentu pada  kemampuan sistem untuk beradaptasi dengan organisasi baru. Evlolusi bersama ini pada teknologi dan struktur organisasi menjadi terlhat dan penting pada HRVOs, dimana keduanya berkembang bersama dan berkolaborasi.
Pad TWS, social media adalah salah satu dari saluran primer pribadi dan organisasai dapat  memperoleh kehandalan, informasi yang relevant. Social media bukanlah entitas yang statis, sebuh struktur organisasi yang berkembang dan berubah dalam HRVOs dan TWS. Social media menolong khusunya pada perhitungan ancaman sunami. Dalam proses perkembangannya setelah bencana sunami di samudera hindia pada 2004, dalam pembahasannya komite menemukan beberapa peran penting untuk teknologi pada peningkatan TWS. TWS memiliki dua TWC (Tsunami Warnig Center) yang terletak di Hawai dan Alaska memiliki karakteristik dan kemampuan yang berbeda karena dalam aplikasi pembuatannya mengguaka software dan hardware yang berbeda. Terdapat permasalahan dan perbincangan dengan fungsionalitas keduanya karena memiliki fungsi yang sama dan kemudian tempat yang berbeda. Para komite berdiskusi dan menawarkan opsi bahwa akan dilakukan merger menjadi terpusat atau tidak antara keduanya.

Berdasarkan pemaparan diatas dapat diketahui bahwa bagaimana sebuah organisasi baru seperti HRVOs, dan teknologi yang mendukungnya, terlihat berkembang bersama, bersama-sama merancang keuksesan soaial dan artefak teknologi dari organisasi terpercaya. Aturan untuk mengambangkan bersama-sama sebuah media baru, teknologi, dan struktur organisasi dalam menjamin tingkat kinerja yang tinggi di HRVOs tidak dipahami denan baik. Pada kasus ini bagaimana sosial media memainkan peran dalam strukturasi adaptif. Namun pengetahuan bagaimana respon sosial dan organisasi untuk pesan peringatan berubah dengan penggunaan sosial media yang terbatas. Pada TWS, teknologi dan struktur organisasi berkembang bersama, TWS berfungsi salah satunya untuk menghitung intensitas ancaman sunami yang kemudian informasinya akan disebarkan ke ppublik secara real time melalui media sosial yang dimiliki publik.  

Selasa, 09 Juni 2015

Heuristic Evaluation pada Website Pemprov Banten

      Halo semuanya, sekarang mau bahas Heuristic Evaluation pada website pemprov Banten (bantenprov.go.id). Hal ini saya kerjakan sebagai salah satu bahan Ujian Akhir Semester (UAS) mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer.

      Sebelum mulai untuk sedikit melakukan evaluasi, saya akan coba jelasin heuristic evaluation itu apa. Heuristic evaluation adalah evaluasi terhadap produk yang dilakukan oleh ahli. Heuristik adalah seperangkat prinsip atau aturan yang digunakan oleh pakar untuk meneliti antarmuka dan menemukan kesalahan sendiri.
Apa saja Prinsip-Prinsip Evaluasi Heurisitik?
Menurut Nielsen(1995a), ada sepuluh prinsip heuristik yang dapat digunakan, yaitu:

Apa saja Prinsip-Prinsip Evaluasi Heurisitik?
Menurut Nielsen(1995a), ada sepuluh prinsip heuristik yang dapat digunakan, yaitu :
1. Match between system and the real world
Sistem harus ‘berbicara’ dalam bahasa yang biasa digunakan oleh pengguna. Kata,frasa, dan istilah yang digunakan mengikuti kebiasaan yang ada.
2. Visibility of system statusSistem harus dapat menginformasikan kepada pengguna tentang apa yang terjadi pada system.
3.Consistency and standards
Pengguna tidak harus berpikir apakah kata, situasi, dan aksi yang berbeda ternyata memiliki arti yang sama.
4. User control and freedom
Pengguna kadang memilih pilihan yang salah dan memerlukan opsi ‘emergency exit’. Pengguna dapat keluar dari keadaan akibat pilihan yang salah tersebut tanpa perlu melewati kegiatan tambahan lainnya.
5. Error prevention
Sistem didesain sehingga mencegah pengguna melakukan kesalahan dalam penggunaan system. Bisa dilakukan dengan menggunakan pilihan konfirmasi.
6. Recognition rather than recall
Membuat objek, aksi, dan pilihan yang ada visible (jelas).
7. Aesthetic and minimalist design
Dialog seharusnya tidak mengandung informasi yang tidak relevan atau tidak terlalu diperlukan.
8. Flexibility and efficiency of use
Permudah pengguna untuk melakukan kegiatannya dengan lebih cepat.
9. Help and documentation
Sistem menyediakan bantuan dan dokumentasi yang berisi informasi tentang penggunaan system.
10. Help users recognize, diagnose, and recover from errors
Pesan kesalahan harus dijelaskan dalam bahasa yang jelas, menjelaskan masalah dan memberikan solusi.

Berdasarkan sepuluh nilai-nilai heuristik tersebut, saya akan coba membahas lima dari 10 point untuk mengevaluasi website bantenprov.go.id.
Dari sepuluh prinsip nilai evaluasi tersebut saya akan coba membahas lima yaitu:
1. User Control and Freedom - bantenprov.go.id
2. Error Prevention - bantenprov.go.id
3. Flexibility and Efficiency User - bantenprov.go.id
4. Visibility of System Status - bantenprov.go.id
5. Help and Documentation - bantenprov.go.id

Penjelasan setiap prinsip saya coba tampilkan terpisah.
Selamat membaca (:

Help and Documentationn - bantenprov.go.id

1. Ringkasan Masalah
Pengguna awal pengguna sistem awam membutuhkan petunjuk untuk menggunakan sistem pertama kalinya atau ketika lupa untuk menggunakan sistem tersebut sangatlah penting.

2. Deskripsi Masalah

  • Help from forgot username or password
Pengguna yang memiliki akun mungkin akan mengalami lupa pada username atau password yang telah ia daftarkan pada sistem. Pada kasus ini tidak adanya bantuan untuk mengganti password atau username jika pengguna lupa. Sehingga memaksa pengguna membuat akun baru jika mereka tidak bisa mengingat akun yang lamanya.
  • Tutorial pada penggunaan sistem (panduan penggunaan)
Sistem ini tidak menyediakan fasilitas pembantu pengguna baru atau pengguna lama yang mungkin lupa menggunakan sistem tersbut. Hal tersebut dibutukan untuk memudahkaan pengguna dan mengurangi tingkat kebingungan pengguna ketika menggunakannya. 

3. Rekomendasi Perbaikan
Harus ditambahkan menu untuk forgot password dengan menambahkan satu tombol atau hypertext untuk menuju link atau halam forgot password. Kemudian dibuat juga halaman atau video penggunaan sistem untuk menuntun pengguna menggunakan sistem tersebut.

4. Severy Rating
Menurut Nielsen (1995b) bahwa savery rating terbagi menjadi 5 kriteria, yaitu:
 Pada kasus ini, nilai savery rating yang saya berikan sebagai berikut:



Visibility of System Status - bantentprov.go.id

1. Ringkasan Masalah
Website bantenprov.go.id pada halaman "daftar" dengan menampilkan modal, website ini belum menyediakan interaksi untuk pengguna yang dapat mengontrol atau memperingati pengguna ketika memberi masukan yang salah pada field. Kemudian maslah selanjutnya apakan ada respon yang membedaka secara visual ketika mouse melakukan mouseover pada objek yang diberi aksi.

2. Deskripsi Masalah
  • Form Pengaduan
Pada kasus ini task sepertinya tidak berfungsi dengan sangat baik dan ketika pengguna mengetikan pengaduannya kemudian menmilih tombol kirim maka form akan kembali kosong dan tidak menimbulkan efek apapun setelahnya. Hal tersebut membuat pengguna tidak mengetahui apakah pesan mereka tersampaikan atau tidak.


Ketika proses pengisin selesai dan pengguna menekan tombol "kirim" sistem akan kembali seperti semula yaitu pada keadaan kosong tanpa masukan. Hal tersebut membingungkan apakah pesan sudah terkirim atau belum.
  • Login untuk siapa dan untuk apa
Ketika pengguna menekan tombom berupa gambar pesawat kertas yang terletak dipojok kanan atas yang pengguna tidak tahu itu untuk apa, kemudian ketika dilakukan mouse over pada gambar tersbut hanya muncul keterangan bertuliskan "webmail". Kemudian ketika ditekan akan membuka tab baru kemudian muncul halaman login seperti berikut:


Halaman langsung memunculakan form sperti form login yang tidak ada keterangannya itu form untuk login apa dan berhak untuk siapa, karena tidak ada kalimat atau kata sama sekali yang menjelaskan itu form apa.

3. Rekomendasi Perbaikan
Diperlukan pemberitahuan pada pengguna ketika proses pengiriman pesan, sehingga dengan jelas pengguna dapat mengetahui proeses pengiriman pesan yang mereka tuliskan.
Untuk yang kedua harus ditambahkan keterangan yang jelas sehingga tidak menimbulkan kebingungan kepada pengguna, serta hak akes halaman tersebut untuk siapa.

4. Severy Rating
Menurut Nielsen (1995b) bahwa savery rating terbagi menjadi 5 kriteria, yaitu:
 Pada kasus ini, nilai savery rating yang saya berikan sebagai berikut:

Recognition Rather than Recall - bantenprov.go.id

1. Ringkasan Masalah
Memaksa pengguna mengingat kejadian atau aksi yang dilakukan ketika menggunakan sistem.

2. Deskripsi Masalah
  • Breadcrumbs
Meminmalisir pengguna untuk meminimalisir otaknya mengingat apa yang telah dilakukan ketika memberikan aksi pada sistem atau mengingat posisi user ketika berada pada sistem adalah hal utama. Hal itu sudah mulai terlihat, akan tetapi masih ada beberapa halaman yang membuat pengguna bingung karena dialihkan alamatnya ketika memberikan aksi yang seharusnya masih satu sekuens dengan pekerjaan sebelumnya. seperti pada gambar beriku:




Gambar tersebut menunjukan ketika pengguna berada pada halaman "home/sekilas banten/profile banten" kemudian pengguna meimilih atau melakukan klik pada "peralihan masa pra sejarah" maka breadcrumbs akan berubah menjadi "home/peralihan masa sejarah" yang seharusnya pengguna berada pada "home/sekilas banten/profil banten".

3. Rekomendasi Perbaikan
Sebaiknya tidak dipisahkan prosisinya, sehingga pengguna  dimudahkan ketika akan mencari hal lain pada sekilas banten.

4. Severy Rating
Menurut Nielsen (1995b) bahwa savery rating terbagi menjadi 5 kriteria, yaitu:
 Pada kasus ini, nilai savery rating yang saya berikan sebagai berikut:




Flexibility and Efficiency of Use - bantenprov.go.id

1. Ringkasan Masalah
Bilingual atau multi bahasa memang penting untuk memudahkan pembaca terutama warga negara asing. Pada website ini, disediakan dua bahasa yaitu Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. 

2. Deskripsi Masalah

  • Multi Bahasa
Pada kasus, jika pengguna ini jika pengguna ingin menggunakan website dengan bahasa inggris maka ia akan memilih gambar bendera inggris yang memenga menggambarkan itu sebagai tool untuk menkonversi bahasa menjadi bahasa inggris pada web tersebut. pada kenyataannya yang berubah menjadi bahasa inggris dari bahasa indonesia hanyalah sebagian kata dari menu bar saja, selebihnya tetap menggunakan bahasa indonesia.


3. Rekomendasi Perbaikan
Diperlukan terjemahan bahasa yang dapat menterjemahkan seluruh kata yang ada pada website tersebut

4. Severy Rating
Menurut Nielsen (1995b) bahwa savery rating terbagi menjadi 5 kriteria, yaitu:
 Pada kasus ini, nilai savery rating yang saya berikan sebagai berikut: